It's like a dream... Slap me.

Aku tentu tak mau menjadi penyebab tidak bangunnya kamu, kemudian tertinggallah sholat. Semalam kamu tak langsung istirahat tidur melainkan singgah ke tempatku belajar, memenuhi ajakan minum wedang jahe yang tidak serius karena ku pikir kamu menjelma bang Toyib malam itu. Tidak pulang.

Muka ka Can membentuk kode, memancing mukaku untuk menoleh ke kanan. Dan berdirilah kamu di situ, di depan pintu dengan muka minta dikucek. Aku melirik layar handphone. Ada pesan masuk yang belum saya baca berisi tanda si Mas bukanlah bang Toyib *apeu*.

Sebentar dia dan dua teman kami membahas apa-itu-residu yang soalnya sedang saya kerjakan dengan mata setengah terpejam. Atau otak? Hah! “Udaaah, telen ajaaa,” terngiang suara Ason saat belajar Fisika Kuantum dengan logat Betawi dan Catra ketika belajar Mekanika Lanjut dengan logat Sunda. Zzz.

Kemudian pergilah saya dan dia mencari wedang jahe sekedar mencegah kantuk. “Ke kanan atau kiri? Kalo kanan deket, tapi curam, licin. Kalo kiri ga curam tapi jauh.” Katamu, mendadak kuis tapi dijawab sendiri. Mungkin lain waktu bisa cari tahu filosofi pemilihan jalan ataupun modus-modus yang mungkin menyertai, pikirku iseng.

Terimakasih untuk malam yang kamu sempatkan untuk mengunjungi saya belajar, wedang jahe sekedar penghangat badan, dan obrolan yang selalu menyenangkan. Padahal kamu baru saja pulang kerja mendekati tengah malam.

Keesokan paginya, alih-alih belok kiri langsung pulang, aku memutuskan untuk belok kanan, singgah sebentar ke tempatmu karena tidak dapat menghubungimu. Temanmu membukakan pintu.

“Banguuun, bangun, bangun, cepet sholat…” Aku tentu tak mau menjadi penyebab tidak bangunnya kamu, kemudian terlewatlah sholat. “Ngngng…” Si Semprul menolehkan mukanya. Saja. “Melek dulu melek, …., banguuuun, …, sholaaaat, … keburu teraaaang, …,” isilah titik-titik tadi dengan suara lebah, hah heh hoh, gerakan robot yang baru diisi koin, apapun.

“Udah telat.. Gue udah liat matahari..” katamu, menggeliat. Aku menengok ke arah jendela. Matahari dari Hongkong, huh. Matahari kemarin? “Kapaaaaan,” kataku mulai gemas. Dia membuka matanya. “Sekarang.” Kemudian. Hening. Lalu bergeraklah tangan ini dengan manuver-manuver tak terelakkan, ”plak plak PLAK PLAKPLAK!!!”. Rasakan itu Masbro… ;D

Bisa merindukan itu hal yang indah, tapi kadang tidak merindukan siapa-siapa itu hal yang menenangkan.

(via penggilakata)

[Flash 9 is required to listen to audio.]

Senja Yang Sendu by Dini Budiayu feat Rahne

1 week ago
homedesigning:

(via Beautiful Designs by Svetlana Nezus)

Mau punya sudut seperti ini.. :3

homedesigning:

(via Beautiful Designs by Svetlana Nezus)

Mau punya sudut seperti ini.. :3

Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai…

HR. Bukhori di Adab Almufrad Dari Abi Hurairah.

hal inilah yang entah mengapa sering dan saya temukan disini , di lingkaran pertemanan di tumblr , saling memberi hadiah menjadi hal yang amat sangat mengesankan

bahkan belum sempat kita bertemu , hadiah hadiah itu berdatangan dari beberapa teman di tempat lain.

baik itu berupa benda berwujud , kartu pos , buku , ataupun doa.

semua itu mendekatkan kita , membuat kita merasa dekat seperti kawan lama , sampai sampai ketika kita bertemu untuk pertama kalinya

seolah olah kita sedang reuni kawan SD

untuk lebih jelasnya tentang perilah memberi hadiah , silakan klik disini :)

waa :’3

(Source: kurniawangunadi)

Tanya dan uji ingatanku. Apa yang tak kuingat tentang pertemuan-pertemuan kecil denganmu?

(via penggilakata)

free counters